Dua orang korban trafficking saat di Mapolres Tulungagung. / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Dua orang korban trafficking saat di Mapolres Tulungagung. / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Sungguh memprihatinkan apa yang terjadi pada NA (14), warga Tulungagung yang merupakan salah satu dari empat korban kasus trafficking. NA yang awalnya ditangkap sebagai perekrut wanita yang akan dijadikan pelayan warung kopi memberikan pengakuan mengejutkan.

NA mengaku juga awalnya menjadi korban trafficking. Namun,  dia tidak kuat melayani puluhan pria hidung belang yang tiap hari mampir ke warungnya.

"Keempat korban yang kami amankan ini salah satunya adalah perekrut. Namun pada perkembangannya, ternyata dia merupakan korban juga," kata Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Hendro Tri Wahyono, Selasa (06/08) siang.

Menurut kasat reskrim, informasi adanya perekrutan beberapa cewek di bawah umur itu diterima kepolisian sejak Jumat (2/08) lalu. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi mengetahui dan memastikan para korban dibawa naik mobil menuju Pantai Prigi, Kabupaten Trenggalek.

Polisi pun langsung bertindak. Mobil yang ditumpangi para korban itu dihadang di tengah jalan. "Petugas kami lalu mengamankan semua," ungkap Hendro.

Dalam pemeriksaan, dua orang diketahui merupakan otak perekrutan cewek-cewek di bawah umur itu. Yakni SL (35), beralamat di Desa Bungkoro, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek yang merupakan pemilik Kafe Talenta di Pantai Prigi serta SU (30),  warga Desa Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri.

"Pelaku SL inilah yang minta NA untuk merekrut korban lainnya. Selain menjadi pelayan di kafe itu, korban dijanjikan bisa bekerja sebagai pekerja seks komersial karena NA ini awalnya kerja sendiri dan tidak kuat melayani banyak pelanggan tiap hari," beber Hendro.

Kepada polisi, NA mengaku tiap hari bisa melayani sepuluh pria hidung belang. Karena tak kuat, NA mencari teman untuk melayani pelanggan yang datang agar kerjanya lebih ringan. "Kemudian berhasil membawa dua teman berusia 15 dan 16 tahun," tambah kasat reskrim.

Selain itu, polisi  membawa seorang korban lain bernama NP (20). NP telah direkrut sebelumnya dan diketahui sudah bekerja selama empat hari.

"Selama empat hari itu dia mengaku sudah menemani dan melayani lelaki hidung belang. Bahkan dari pengakuannya, tak dibayar empat kali oleh pelanggannya," papar kasat reskrim.

NA sendiri di depan penyidik mengaku mengenal para korban lain melalui media sosial dan ada yang tengah mencari pekerjaan. "Pencari kerja ini sudah bekerja di kafe di Tulungagung. Setelah ditawari, mau untuk dibawa ke Trenggalek. Sebenarnya ada dua lagi yang mau ikut. Namun dua orang itu tidak diperbolehkan keluarga," ujar Hendro.

Polisi juga telah mendatangi kafe tempat NA bekerja. Selain telah memasang police line, polisi juga menemukan satu bilik kecil di belakang kafe dengan kondisi sempit dan kotor. Bilik itulah tempat  "main" antara si hidung belang dan NA yang telah bekerja cukup lama di sana.

Atas perbuatan dua orang yang berstatus tersangka, yakni SL dan SU, polisi menerapkan Pasal 2 Ayat  (1) RUU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Jika yang menjadi korban adalah  anak atau masih di bawah umur, sesuai pasal 2, 3 dan 4, maka hukuman tersangka ditambah menjadi sepertiga dari hukuman yang diterimanya.