Sha Ine Febriyanti sukses perankan Nyi Ontosoroh, karakter dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (nova.grid.id)
Sha Ine Febriyanti sukses perankan Nyi Ontosoroh, karakter dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (nova.grid.id)

"Kita kalah, Ma," bisik Minke. 
"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya," jawab Nyi Ontosoroh.

Begitulah halaman akhir dari buku fenomenal karya (alm) Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia. 

Sebuah novel bagian pertama dari Tetralogi Buru yang ditulis Pram ketika masih mendekam di pulau Buru serta diterbitkan pertama kalinya tanggal 25 Agustus 1980 oleh penerbit Hasta Mitra.

Bumi Manusia yang dilanjut dengan karya berikutnya yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. 

Secara garis besar berkisah tentang tiga sosok sentral di dalamnya, yaitu Minke, Annalies Mellema dan Nyai Ontosoroh. 

Tiga sosok yang akhirnya diangkat ke layar lebar dan akan beradu perhatian dengan film Indonesia lainnya di bulan Agustus ini, yaitu Gundala.

Lewat tangan dingin Hanung Bramantyo, Bumi Manusia yang sempat jadi buku terlarang di era Soeharto, hadir dengan durasi yang tak kalah dengan film Hollywood The Avenger End Game, yaitu sekitar 3 jam. 

Durasi yang tentunya membutuhkan kekuatan para aktor di dalamnya untuk bisa menghidupkan berbagai karakter di dalam buku. 

Hal itu pun tidak ditampik oleh Sha Ine Febriyanti yang memerankan dengan ciamik Nyai Ontosoroh yang berhasil menghidupkan alur cerita dalam film. 

Sosok yang menurut Sha Ine yang lebih mendalami seni peran teater daripada sinetron, amat sangat berat dalam sepanjang karirnya di dunia layar lebar.

"Nyai Ontosoroh itu adalah karakter berat, gila banget. Untuk masuk ke dalam karakternya, tidak hanya baca bukunya saja. Tapi saya berusaha juga untuk holistik," ucap Ine yang setelah menyelesaikan syuting film karakter Nyi Ontosoroh masih terbawanya di kehidupan nyata selama hampir 3 bulan lebih.

"Saya total masuk ke karakter Nyi Ontosoroh, sehingga setelah selesai syuting pun nasih terbawa ke kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Totalitas Ine untuk masuk ke peran Nyi Ontosoroh yang merupakan seorang gundik asli Jawa yang dijual kepada Mellema, seorang tuan tanah Belanda. 

Gundik di masa kolonial Belanda merupakan status paling hina, bahkan derajatnya disamakan dengan hewan peliharaan membuat karakternya menjadi sangat berat. 

Apalagi Nyi Ontosoroh bukanlah sekadar gundik kebanyakan di masanya. Tapi sosok perempuan yang cerdas, keras dan memiliki kobaran api di dalam dadanya. 

Api perlawanan sejak dirinya mulai banyak belajar tentang segala hal dalam kehidupannya.

Kompleksitas karakter itulah yang membuat Ine, dalam setiap syuting pun, menutup diri dan hanya berdua saja dengan Annalies Mellema yang diperankan Mawar de Jongh, anak dari Nyi Ontosoroh dan Mellema. 

"Ketika saya masuk ke dalam set, ya sudah, 'Saya ini Nyai Ontosoroh. Saya lonte, saya dijual sama bapak saya,' sampai seperti itu," ucapnya.

"Dan ketika lagi syuting, sebisa mungkin saya hanya berdiam diri kamar," imbuh Ine.

Totalitas Ine memerankan Nyi Ontosoroh, terbayar dengan akting ciamiknya dalam film.

Walau harus berjuang begitu keras untuk bisa masuk ke karakter yang sudah dibacanya sejak tahun 1996 lampau serta langsung tersengat dan jatuh cinta sampai bermimpi bisa memerankan tokoh Nyi Ontosoroh. 

Akhirnya terbayar sudah dalam film yang mendapat apresiasi banyak kalangan ini.

"Bersyukurlah Pram memotret kehidupan pribumi, indo, dan Belanda yang rasisnya minta ampun. Jadi jagalah yang sudah ada ini. Indonesia sudah menempuh perjalanan begitu panjang, kalau mau dirusak lagi kan sayang banget," ujar ibu tiga anak asal Semarang ini.

Hanung sang sutrada Bumi Manusia pun menyampaikan, bahwa telah lama dirinya ingin "menghidupkan" kembali sosok Pramoedya di tengah generasi muda saat ini. 

Dia menyayangkan banyak generasi muda tidak mengenal siapa itu Pramoedya Ananta Toer.  

"Melalui film, kami berharap akan ada jutaan orang mengenal Pram," ujarnya.