Kampung Sirih Kelurahan Ditrotrunan Lumajang. (Foto: Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)
Kampung Sirih Kelurahan Ditrotrunan Lumajang. (Foto: Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)

Wakil Bupati Lumajang Ir. Indah Amperawati, pagi ini (Sabtu, 1/2/2020) meresmikan Kampung Sirih Kelurahan Ditotrunan Kecamatan Lumajang yang dikembangkan melalui Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).

Melalui program ini, sejumlah gang menuju pemukiman warga di 4 RT, di RW 5 Kelurahan Ditotrunan Lumajang mendapat sentuhan renovasi yang disertai dengan swadaya masyarakat setempat.

Wabup masuk ke sejumlah gang di kawasan Kampung Sirih. Tampak penampilan kampung tersebut berubah. Kini, sepanjang jalan-jalan di sepanjang gang telah dipasang paving. Juga di sisi-sisi gang ditanami aneka bunga dan tanaman obat.

Tak hanya itu, untuk menjaga aliran air saat hujan, warga juga membuat biopori dan penataan saluran air. Agar semakin rapi, dinding dan pagar-pagar rumah warga juga dicat ulang dengan dihiasi berbagai gambar sehingga Kampung Sirih menjadi lebih berwarna.

"Seluruh proses ini menghabiskan dana Rp 450 juta, dan banyak swadaya masyarakat dalam proses ini. Seluruh masyarakat merasa memiliki terhadap semua yang ada di sini," kata Teguh Ekaja, salah seorang warga di Kampung Sirih.

Sementara Wakil Bupati Lumajang Ir. Indah Amperawati kepada wartawan menyatakan, Kampung Sirih ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat lainnya di Lumajang.

"Kalau program Kotaku sementara untuk di kota saja. Saya harapkan ke depan, ini menjadi contoh bagi masyarakat termasuk di desa-desa dengan menggunakan dana desa. Ini masyarakat terlibat, karena masyarakat ikut memiliki semua ini," kata Wabup Lumajang.

Renovasi kampung yang melibatkan masyarakat, hasilnya akan berbeda jika dibandingkan dengan bangunan yang dibuat oleh kontraktor dalam bentuk proyek yang dilelang.

"Kalau yang mengerjakan kontraktor bisa jadi masyarakat tidak merasa ikut memiliki," jelas Wabup Lumajang.

Kampung Sirih di Kelurahan Ditotrunan, menurut Ketua RW 1, sebelumnya sangat kumuh. Namun sekarang keadaannya sudah jauh berbeda.

"Dulu kalau sore-sore tidak ada ibu-ibu yang menyiram bunga. Sekarang sudah berubah, ibu-ibu sudah aktivitas nyiram bunga kalau sore," kata Ketua RW 1 Kelurahan Ditrotrunan Puji Sayekti.