Ilustrasi (pixabay)
Ilustrasi (pixabay)

Mata perempuan berusia 26 tahun ini berembun. Sebelum akhirnya, air matanya turun sambil menceritakan nasib yang dia alami hingga lebih dari sepekan meringkuk di sel tahanan Polda Sumatera Barat (Sumbar).

Perempuan berinisial NN tersebut merupakan pekerja seks komersial (PSK) di Padang, Sumbar. NN menjajakan diri melalui aplikasi perpesanan online atau dalam jaringan (daring). Mengenakan baju hitam, NN pun memberikan keterangan terkait penggerebekan yang menimpanya di sebuah hotel berbintang.

Dari bibirnya meluncur kesaksian atas peristiwa yang membuat NN berurusan dengan penegak hukum. Serta membuat dirinya juga harus menitipkan anaknya ke tetangga.

"Mengapa harus pakai aku dulu," ujarnya dengan terbata-bata dan menahan kekesalan. NN kesal atas penggerebekan yang direncanakan oleh seseorang yang sejak awal telah memesan kamar hotel untuk aktivitas esek-esek itu, seperti dilansir oleh covesia.com yang mewawancarainya.

Dari mulut NN meluncur kisah yang membuatnya harus merasakan hotel prodeo. Pada Minggu (26/1/2020) lalu, NN mengaku mendapat pesanan untuk melayani syahwat lelaki via aplikasi MiChat. NN pun diantar oleh AS, sang mucikari ke sebuah hotel berbintang  yang telah dibooking oleh seseorang.

Kamar 606, sekitar pukul 14.00 WIB, NN yang dipandu AS sampai di pintu kamar hotel itu. "Ini nomor kamarnya," ucap sang mucikari ke NN.

NN tanpa ragu masuk ke kamar hotel yang berdasarkan struk reservasi yang didapatkan Covesia, dibooking oleh politisi Partai Gerindra Andre Rosiade. Kamar itu dipesan untuk tanggal 26 Januari 2020 dengan waktu check-in pukul 14.00 WIB dan check-out tanggal 27 Januari 2020 pukul 12.00 WIB.

Andre memesan hotel dengan menggunakan KTP atas nama Bimo Nurahman, yang disebut sebagai ajudannya.

Struk reservasi kamar hotel 606 yang dipesan itu, menurut keterangan Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Stefanus Satake Bayu Setianto, sebagai upaya Andre untuk membuktikan di Kota Padang banyak terjadi prostitusi daring.

"Andre ini ingin ikut serta memberantas maksiat tersebut. Ia memancing dan memesan pekerja seks komersial dengan masuk ke aplikasi MiChat melalui akun temannya. Iapun melakukan transaksi dan disepakati harga Rp 800.000 di salah satu hotel di Kota Padang," ucap Bayu seperti diberitakan Covesia, Selasa (4/2/2020) kemarin.

NN yang berprofesi sebagai PSK daring tanpa ragu masuk ke kamar yang telah dipesan itu. Di dalam kamar, sudah ada seorang pria yang menurut NN berusia sekitar 40 tahun, telah menunggunya.

"Saya tak kenal dengan lelaki itu. Saya juga tidak pernah bertanya kepada AS. Urusan saya di ruangan dan menerima bayaran," ujarnya.

Di dalam kamar 606, tutur NN, lelaki yang diduga dibayar oleh Andre untuk menjebak sekaligus membuktikan bahwa di Padang marak prostitusi daring. menanyakan tarif layanannya.

"Dia bertanya tentang harga. Lalu aku bilang, tadi bukannya sudah deal di chat (dengan AS)," ujar NN.

Lelaki yang sejak penggerebekan itu tak diketahui nama dan lokasinya itu, kembali bertanya soal besaran tarif. 

Percakapan tarif esek-esek di dalam kamar hotel pun terjadi. Lelaki itu menawar dari harga awal Rp 800 ribu menjadi Rp 500 ribu, sedangkan untuk sisanya akan dibayarkan lewat transfer.

"Lelaki itu bilang punya e-banking. Saya bilang, oh ya sudah boleh, kan sama," ucap NN. Meski sudah deal, lelaki itu ternyata masih kembali menawar tarifnya. Sambil menyampaikan e-banking yang dimiliki tak bisa digunakan.

Akhirnya, NN pun menyepakati tarif sebesar Rp 750 ribu yang dibayarkan di kamar hotel itu. Uang esek-esek itu pula yang dijadikan barang bukti.

Deal, NN pun melayani syahwat kliennya di kamar mandi. Tiba-tiba bel kamar berbunyi, saat mereka masih di kamar mandi. NN yang bertanya kepada lelaki yang dilayaninya itu dijawab, bahwa mungkin itu adalah petugas kebersihan kamar hotel.

NN menuturkan, saat itu mereka keluar dari kamar mandi. "Pria itu mengenakan baju dan membuka pintu. Aku mengikuti dari belakang. Aku cari handuk, tapi enggak ada. Saat pintu dibuka sudah banyak orang. Saya panik dan lari ke kamar mandi," ucapnya.

NN masih dalam kondisi telanjang bulat saat orang-orang membawa kamera masuk dan pria yang dilayaninya tiba-tiba raib tak diketahui kemana saat itu.

"Tak ada handuk di hotel, biasanya ada. Ini kayak direncanain gitu. Yang bikin ganjal mengapa saya dipakai dulu baru digerebek," ujarnya terbata-bata.

NN menyampaikan, saat penggerebekkan, dirinya sembunyi di kamar mandi dan tak mau keluar karena masih telanjang bulat.

"Aku bilang, aku tidak mau keluar jika tidak ada yang ngambil baju," imbuhnya.

Dia menegaskan, bahwa dirinya tak tahu siapa yang memesan layanan birahi itu.

Politisi Gerindra Andre Rosiade sendiri enggan memberi banyak keterangan pada awak media terkait tindakannya menjebak NN dalam rangka membuktikan bahwa prostitusi daring di Padang marak terjadi. Dia juga mengelak saat dikonfirmasi terkait lelaki di dalam kamar yang memakai NN sebelum digerebek, yang ramai disebut orang bayaran Andre.

"Silakan tanya ke pihak kepolisian. Bukan urusan saya dan itu domain kepolisian," ujar Andre pada Convesia.com. Andre juga menyebut tak merasa membooking kamar hotel itu.

Politisi Gerindra ini tegas mengatakan, booking kamar itu tidak pernah atas namanya. Dirinya juga tak pernah ke resepsionis hotel dan membayar untuk sewa kamar.

"Ini yang saya tanyakan lewat surat ke pihak hotel. Kenapa nama saya yang beredar," ujarnya. Dia kembali menegaskan bahwa prostitusi daring di Padang memang nyata adanya.

"Apa kita mau gempa terjadi di Kota Padang. Apa mau tsunami terjadi di Kota Padang. Kita tahu, mengapa kita harus diam. Lalu jika Andre Rosiade membongkar, apa semua harus kebakaran jenggot, ribut, protes. Pertanyaan, polisi tidak mungkin menetapkan seseorang menjadi tersangka kalau tidak ada bukti ," tandasnya seperti dikutip covesia.com


Sumber : covesia.com