Mantan pelaku terorisme Mukhtar Khairi alias Umar alias Herman alias Abu Hafsah. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Mantan pelaku terorisme Mukhtar Khairi alias Umar alias Herman alias Abu Hafsah. (Foto: Ima/MalangTIMES)

Mukhtar Khairi alias Umar alias Herman alias Abu Hafsah adalah mantan pelaku terorisme. Awal dirinya bergabung dengan ISIS bermula dari mengikuti pengajian yang tertutup dan mengikuti Partai Agama pada tahun 2005.

"Narasi yang dibangun di situ belajar politik terus. Dalam masa-masa pengajian tertutup selama beberapa tahun itu kita mempelajari buku-buku tentang perang, ditambah menonton video dokumenter jihad Afganistan, Bosnia, dan sebagainya sampai saya merasa rindu dengan yang namanya perang. Bahkan saya pada waktu itu menganggap kayaknya harus dibikin medan konflik di Indonesia," ungkap Mukhtar.

Mukhtar menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Sehari Halaqah Perdamaian "Belajar dari Rekonsiliasi Korban dan Mantan Pelaku Terorisme" di Auditorium Nuswantara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Rabu (19/2/2020).

Pada 2007, ia bergabung dengan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) kemudian masuk dalam jaringan Dulmatin.

Dulmatin adalah nama besar di dunia teroris Indonesia. Amerika Serikat menghargai kepalanya US$ 10 juta (sekitar Rp 92,7 miliar). Pada saat itu, Mukhtar tidak tahu bahwa dia adalah Dulmatin karena ia memakai nama samaran.

Pada tahun 2010, Mukhtar mengikuti pelatihan militer di Aceh.

"Saya sempat berbohong ke istri. Saya bilang mau kerja ke Kalimantan, tahu-tahu ke sumatera," katanya.

Suatu ketika, terjadi baku tembak antara kelompok Mukhtar dengan Densus dan Brimob. 3 aparat meninggal dan 3 pelaku meninggal tertembak. Mukhtar ditangkap dan divonis selama 8 tahun.

Ditahannya Muhktar tak lantas membuatnya bertaubat, malah, ia menjadi semakin ekstrem.

"Dipenjara jadi lebih ekstrem. Saya satu sel dengan Ustaz Aman Abdurrahman (imam salat, pengajar di lapas, dan penceramah) di Rutan Polda Metro Jaya selama 4 bulan dan Lapas Cipinang selama 7 bulan. Dipersiapkan sebagai tokoh ISIS oleh Ustaz Aman Abdurrahman. Saya sempat mengkafirkan orang tua dan tak mau mendoakannya," kisahnya.

Dalam penjara itu,  Mukhtar diajari cara membaca peta, mengenal jenis-jenis senjata (laras panjang maupun pendek). Ia juga belajar merakit bom dan granat hingga belajar taktik infantri.

Diungkapkan Mukhtar, paham-paham yang diusung oleh ISIS kebanyakan tak masuk akal. Pertama, mereka kerap mengkafirkan orang yang tidak sepaham.

"Yang lebih parah lagi, ada kaidah barang siapa tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu-ragu atas kekafiran orang kafir, maka dia kafir," ungkapnya.

"Misalkan, saya kafirkan polisi, kemudian saya tanya teman saya, teman saya tidak mengakui ia kafir karena melihat orang itu salat, maka saya berani mengafirkan teman saya ini. Kemudian berantai lagi, ada teman saya satu lagi nggak mengafirkan teman saya tadi, akhirnya pengafiran berantai. Jadi hampir semua penduduk di bumi ini jadi kafir," bebernya.

Kedua lebih lucu lagi, mengharamkan olahraga yang bersifat permainan.

"Kita dulu di dalam sehat-sehat, ada dokter, setiap pagi main bulu tangkis. Kena ISIS mulai berhenti olahraga, akhirnya banyak yang sakit-sakitan," kisahnya.

Penganut paham ISIS menganggap olahraga minimal hukumnya haram dan maksimal bisa murtad.

Ketiga, penganut paham ISIS di lapas tidak mau salat berjamaah di masjid yang dibangun lapas.

"Kita menganggap masjid itu harus dibakar dan dihancurkan karena di masjid itu para napi dikumpulkan, kemudian dikasih pembekalan ilmu pancasila. Jadi ini memecah-belah umat," paparnya.

"Jadi mereka punya pemahaman yang kebolak-balik," imbuhnya.

Pemahaman keempat, mereka bersikap tertutup dan merasa paling benar. Mereka akan meremehkan orang yang memiliki pemahaman yang berbeda.

"Padahal, pemahaman tersebut adalah pemahaman iblis. Iblis merasa lebih baik dari adam," timpal Mukhtar.

Kelima, pernikahan orang yang tidak sepaham dianggap sebagai zina.

Keenam, menganggap upacara bendera sebagai sebuah kekufuran karena menyembah bendera.

"Lalu, pelaku demokrasi sebagai musyrik. Semua orang yang ikut pemilu kita kafirkan. Makanya nggak heran kalau kita melihat mereka ngebom sembarangan dan blebih banyak dari sipil. Jadi kalau orang udah ikut pemilu udah dianggap menyembah Tuhan Tuhan selain Allah," ucapnya.

Ketujuh, mereka mengafirkan pemerintah. Pemerintah dan aparatnya dianggap thaghut.

Mukhtar keluar dari ekstrimisme karena melihat kejanggalan perilaku ISIS.

"Tadinya saya ngefans, tapi saya melihat orang-orang ISIS sering sekali gemar membunuh orang lain dengan cara yang paling sadis. Saya berpikir apa iya Islam seperti ini. Banyak kejanggalan yang akhirnya membuat saya mulai ragu," ungkapnya.

Ditambah lagi, ia juga mengikuti kegiatan LSM dan pemerintah, mengikuti pengajian di luar kelompok ustaz Aman, mengikuti pengajian ustaz moderat di media sosial, kemudian ada dukungan dari keluarganya, serta bertemu korban dan mendengarkan kisah-kisahnya.

"Agar tidak terpapar, jauhi pengajian tertutup dan selektiflah dalam memilih teman dan komunitas," tandasnya.