dr Ungky Agus Setiawan, saat berbagi pengalaman  menangani pasien Covid-19 di RSSA Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
dr Ungky Agus Setiawan, saat berbagi pengalaman menangani pasien Covid-19 di RSSA Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

Tetesan air mata membasahi sela masker yang dikenakan dr Ungky Agus Setiawan saat memberikan keterangan kepada awak media beberapa waktu lalu.

dr Ungky Agus Setiawan menjadi salah satu dokter yang bertugas menangani pasien virus Corona atau Covid-19 di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang. 

Tak dapat dipungkiri, tugas seorang dokter dalam penanganan kasus penyakit ini memang menjadi garda terdepan. Meski juga merasakan ada kekhawatiran, namun ia pun harus menjalani profesinya sesuai dengan protokol kesehatan.

Pun demikian, tugas ini memang sangat berisiko. Karena sebagai petugas medis khusus, ia juga menjadi salah satu yang memungkinkan untuk tertular.

"Pasti ya (berisiko tinggi), tapi ya kita sudah disumpah untuk ini," ungkapnya sembari terisak tangis.

Kata-kata yang hendak diungkapkannya seakan tercekat di tenggorokan. Namun, dalam kondisi yang tengah dialami oleh semua penduduk di dunia ini, pria 40 tahun ini mengaku tetap siap menjalankan tugasnya.

Bekerja menjadi dokter selama kurang lebih 10 tahun, ia juga sudah pernah ditugaskan menangani kasus MERS dan SARS yang dulu tingkat kematiannya lebih tinggi. Tapi, Covid-19 memiliki durasi penularan yang amat sangat cepat dibandingkan kedua penyakit tersebut.

"Kalau dulu sudah menangani SARS, MERS sudah biasa. Tapi kasus ini memiliki perjalanan yang cukup cepat. Karena ini penyakit paru, kita harus siap," imbuhnya sambil terbata-bata.

Sebagai seorang dokter spesialis paru yang berdiri di garda terdepan dengan penuh resiko ia pun sadar akan perannya. Sebab, kesehariannya ia melakukan komunikasi dan sentuhan dengan pasien positif, PDP (Pasien Dalam Pengawasan, dan ODP (Orang Dalam Pantauan).

Meski begitu, ia bersama petugas medis khusus yang menangani kasus Covid-19 ini saling memberikan support luar biasa. Apalagi, banyak masyarakat yang sangat membutuhkan perannya, maka ia pun juga harus menyiapkan fisik dan psikis dengan segala resiko.

"Semua menyemangati, dan kita siap. Karena (dokter) penyakit paru. Ya kita bersiap seperti tentara, kita di garda depan," terangnya. 

Di samping menjalankan tugas, ia bersama petugas media lainnya pun juga tetap mengikuti prosedural penanganan yang pasti. Yaitu, selalu mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) kesehatan penanganan Covid-19.

Kemudian, selalu memperhatikan kondisi imunitas tubuh dengan makan makanan yang sehat dan bekerja sesuai dengan porsi tubuh.

"Yang paling penting, kita punya optimis dan kerja sesuai dengan porsi. Jadi, kalau memang kecapekan semua ada batasnya, kita juga harus jaga kondisi," ungkapnya.

Lebih lanjut, menghadapi virus Corona dikatakannya harus dengan kewaspadaan. Optimisme juga dibangun antar sesama petugas medis dalam memberikan penanganan kepada pasien.

"Rasa takut itu pasti ada. Tapi ini kan demi masyarakat semuanya, kalau nggak kita yang tangani siapa lagi yang akan membantu permasalahan ini," katanya.

Apalagi, memang belum ada obat yang mampu menangkal kemunculan virus tersebut. Tetapi, ia berharap masyarakat untuk selalu berpikir rasional dan meningkatkan imun tubuh untuk tetap sehat. Sebab, Covid-19 akan sembuh dengan sendirinya apabila kondisi imun baik.

"Memang tidak ada obat, tapi kondisi imun yang sehat insya Allah akan membaik. Jadi, keresahan yang berlebihan yang membuat berpikir tidak rasional harus kita singkirkan. Kewaspadaan tinggi harus kita jalankan dengan kondisi seperti ini," tandasnya.