Agus Widodo (baris depan, dua dari kiri) tersangka kasus pembunuhan saat sesi rilis di ruang Rupatama Polres Malang berlangsung (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Agus Widodo (baris depan, dua dari kiri) tersangka kasus pembunuhan saat sesi rilis di ruang Rupatama Polres Malang berlangsung (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Agus Widodo warga Dusun/Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang nampak lebih banyak menundukkan kepala saat sesi rilis kasus pembunuhan berlangsung, Sabtu (4/4/2020).

Akibat perbuatannya, pria 46 tahun itu kini harus mendekam di sel tahanan karena terbukti menghabisi nyawa istrinya sendiri, bernama Suliani.

”Motifnya (pembunuhan) ada unsur sakit hati karena korban sering berkata kurang sopan. Dari pengakuannya, ada urusan rumah tangga yang menyebabkan adanya kata-kata kurang senonoh dan kasar, yang diucapkan korban sehingga menghina pelaku,” kata Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar.

Seperti yang sudah diberitakan, jenazah korban ditemukan pertama kali oleh Sumali pada Jumat (3/4/2020) pagi. Tepatnya sekitar pukul 06.00 WIB, saksi ketika itu berniat pergi ke kebun sengon dan tebu miliknya yang terletak di kawasan Dusun Sumbersari, Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

Saat diperjalanan, Sumali melihat mayat tergeletak di bawah pohon pisang. Mayat berjenis kelamin perempuan itu diketahui bernama Suliani warga Dusun/Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

Bersama dengan perangkat desa setempat, saksi beserta warga lainnya bergegas ke Polsek Dampit untuk melaporkan kasus penemuan mayat yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan tersebut.

”Pelaku emosi sehingga punya niatan untuk melakukan penyiksaan dan akhirnya terjadi pembunuhan terhadap korban,” sambung Hendri saat sesi rilis yang diselenggarakan di Ruang Rupatama Polres Malang berlangsung, Sabtu (4/4/2020).

Dari hasil autopsi, lanjut Hendri, tim medis mendapati tulang selangka dan iga korban patah. Selain itu petugas medis dari RSSA (Rumah sakit Saiful Anwar, Malang) juga menemukan luka memar di bagian wajah dan di sekujur tubuh korban.

Bahkan, dari pendalaman tim medis juga menemukan adanya pendarahan di rongga dada korban. Terparah, di bagian tengkuk kepala tepatnya di belakang telinga sebelah kanan korban, ditemukan luka terbuka yang diperkirakan memiliki panjang sekitar 5 sentimeter. ”Kalau dari pemeriksaan dokter, penyebab kematian korban disebabkan karena tindak kekerasan yang dilakukan dengan benda tumpul,” ungkap Hendri.

Hasil visum tersebut juga diakui tersangka saat menjalani serangkaian pemeriksaan. Di hadapan petugas gabungan dari Polres Malang dan Polsek Dampit, tersangka mengaku jika aksi kekerasan pertama kali yang dilakukanya adalah memukul korban dengan sepotong kayu.

Belakangan diketahui, Kayu jenis sengon yang digunakan untuk menganiaya korban itu ditemukan tersangka di sekitar lokasi kejadian. ”Tersangka memukul korban sekitar 2-3 kali dengan menggunakan kayu. Pukulan itu mengenai rahang kiri dan kepala bagian belakang tepat di atas telingga sebelah kanan,” jelas Hendri.

Setelah dipukul tepat dibagian kepalanya, korban seketika tersungkur ke tanah. Di saat itulah, tersangka yang emosi kemudian menendang dan menginjak dada korban hingga sekarat.

Tidak berhenti di situ saja, tersangka yang sudah gelap mata juga sempat membekap wajah dan menjeret leher istrinya hingga meninggal dunia. ”Setelah memastikan jika korban meninggal, pelaku menyeret tubuh korban ke dalam kebun tebu yang berjarak sekitar 10 meter dari lokasi penganiayaan,” terang Hendri.

Sekitar tiga jam setelah mendapat laporan, 4 tim yang dibentuk Polres Malang untuk melakukan penyelidikan akhirnya memeriksa 8 orang saksi. Di mana dari keterangan para saksi, pelaku pembunuhan mengarah kepada suami korban yang bernama Agus Widodo alias Bugo.

”Tersangka kami amankan dengan tanpa perlawanan, saat yang bersangkutan sedang berada di kediamannya,” sambung Hendri yang juga pernah menjabat sebagai Kasubbagbungkol Spripim Polri ini.

Di rumah tersangka yang berlokasi di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang tersebut. Polisi juga menyita berbagai barang bukti milik korban yakni kerudung, sandal, dan jaket. Kemudian satu unit sepeda motor matic, satu unit HP (handphone), dan pakaian pelaku saat melakukan pembunuhan juga disita polisi sebagai barang bukti.

”Terhadap tersangka kami jerat dengan pasal  338 KUHP tentang pembunuhan, dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara,” tegas Hendri sembari mengatakan jika kasusnya masih dalam penyidikan untuk mengungkap apakah ada dugaan pembunuhan berencana.

Terpisah, tersangka Agus mengaku menyesal telah menbunuh istrinya yang baru saja ia nikahi selama 3 tahun tersebut. Menurutnya, dia tega membunuh korban lantaran ucapan dari istri sirinya tersebut sering melukai hatinya.

”Orang tua saya dikatain lonte (pelacur) di hadapan orang banyak. Ya saya malu, orang tua yang melahirkan saya kok dikatain seperti itu,” ucap tersangka.

Menurutnya, sebelum menghujat ibunya seperti pelacur, tersangka Agus juga mengaku jika istrinya memang sering bicara tidak sopan dan bahkan menghujat dirinya. Dari sekian banyak perasaan yang terpendam itu akhirnya membuat tersangka emosi, dan nekat menghabisi nyawa istrinya.

”Saya emosi, sakit hati akhirnya saya pukul pakai kayu di kepala dan rahang hingga mati. Kemudian (jasad korban) saya seret ke kebun itu (lokasi penemuan mayat),” ujar tersangka lirih.